Exploring Macau (2 Days 1 Night)

Exploring Macau (2 Days 1 Night)

Pagi2 buta kami sudah bangun dan bersiap menuju Hongkong – Macau Ferry Terminal naik MTR. Naik dari stasiun Tsim Sha Tsui dan turun di stasiun Sheung Wan. Jarak dari stasiun Sheung Wan ke Ferry Terminal ga jauh. Sampai di Ferry Terminal, kami langsung beli tiket di konter tiket yang tersedia (informasinya cukup jelas kok). Harga tiketnya H$ 164 (IDR 290K).

Kapal ferry kami berangkat jam 9.45 tepat. Kapalnya sangat nyaman, khusus penumpang aja (bukan kayak kapal ferry Surabaya-Bali gitu yang juga bawa mobil dan truk). Jadi begitu masuk kapal, isinya kursi2 dan ada mini bar-nya dimana kamu bisa beli makanan dan minuman di situ.

Sampai di Macau Ferry Terminal, kami menuju ke tempat imigrasi. Lagi2 aku deg2an bakal disuruh pulang, hahaha. Sebelum passportku dicap, aku sempet diperiksa full body gitu. Rasanya agak diskriminasi sih karena ga semua turis dicek full body gitu lho. Terus aku juga ngerasa kalau orang2 di Macau itu pada ngeliatin aku dari atas ke bawah.

Setelah lolos proses imigrasi, kami naik bus menuju hotel. Kami turun di depan Senado Square dan (harusnya) tinggal jalan lurus aja dan masuk di gang kedua. Tapi kami nyasar muter2, nanya orang2 bahkan polisi tapi mereka ga bisa Bahasa Inggris (omaigat, kejadian di Thailand terjadi lagi). Akhirnya kami memutuskan untuk cari Wifi dan lihat google maps sampai dua jam kemudian kami berhasil menemukan hotel kami.

Hou Kong Hotel, Double Room, IDR 835K/malam

Travessa das Virtudes No. 1, Macau, Macau

Hotel kami dekat dari Senado Suare, tinggal jalan 5 menit aja. Nah, perjalanan kami pun dimulai dari Senado Square.

  • Senado Square

Bukan cuma ada lapangan, tapi ada banyak resto, gereja, dan kantor pos. Kalau mau cari Portuguese Custard Tarts yang super enak itu, di sini banyak yang jual. Harganya sekitar MOP 5-10.

  • Ruin of St. Paul’s

Kalau kamu menyusuri Senado Square, kamu akan menemukan tempat ini. Ruin of St. Paul’s menjadi landmark-nya Macau yang merupakan salah satu peninggalan Gereja Katedral terbesar di Asia. Sayang, waktu itu lagi rame banget jadi ga bisa puas berfoto disana.

  • A Ma Temple

Dari Senado Square, naik bus jurusan Barra, dari sono tinggal jalan aja, ngesot juga boleh. Di dalamnya banyak orang sembahyang jadi aku ga masuk.

  • Museu Maritimo
This image has an empty alt attribute; its file name is p_20170117_084236.jpg

Terletak di 1 Largo do Pagode da Barra, Macao merupakan museum maritim yang ada di Macau. Oiya, nama2 jalan dan tempat di Macau pakai Bahasa Portugis ya karena mereka jajahan Portugis.

  • Coloane Village

Masih di sekitar A Ma Temple, tempat ini adalah sebuah desa yang letaknya dekat pantai Cheoc Van dan Hac Sa. Terdapat juga alun-alun Parque Eanes dipenuhi dengan banyak restoran Portugis dan Makau.

  • Macau Tower

Dari A Ma Temple naik bus no 18 turun langsung di Macau Tower. Saran kalau mau ambil foto yg keliatan full towernya, ambil dari square yg ada di seberang. Di sini bisa Bungee Jumping lhoo, cuma bayar MOP 20.

  • Panda Village

Panda Village lokasinyadi Estr. de Seac Pai Van, Macao cukup jauh dari perkotaan. Harus naik bus yang melewati City of Dreams dan harus jalan sedikit. Sesuai namanya, disana kita bisa lihat panda (maklum di Indonesia ga ada panda jadi dibela2in deh kesini). Ternyata panda itu hewan paling malas dan super menggemaskan, hihihi.

  • City of Dreams

Semacam Las Vegas-nya USA, disini terkenal dengan tempat judi terbesar di Asia. Ga heran kalau di area sini banyak terdapat hotel2 bintang 5 yang super mewah. Bahkan denger2 ada hotel yang di dalemnya ada akuarium dimana ada “putri duyung”nya lho (WOW!)

  • The parisian

Salah satu hotel mewah yang ada di tempat ini. Iseng2 cek harganya sekitra IDR 2500K/malam. Dari luarnya aja udah super mewah, gimana dalemnya ya?

FYI, transport di Macau adanya cuman bus dan agak membingungkan jadi better cari tau dulu sebelum berangkat atau donlot dulu aplikasinya. Tarif bus sekitar MOP 3,2 – 6,4 tergantung jarak. Siapin uang pas. FYI juga, klo orang sana jarang ada yang bisa Bahasa Inggris, baca alfabet aja susah jadi yaa yang sabar aja.

Exploring Hong Kong (3 Days 2 Nights)

Exploring Hong Kong (3 Days 2 Nights)

Berbekal tiket murah hasil temuan ga sengaja, berangkatlah saya dan adik ke Hong Kong. FYI, untuk pemegang passport Indonesia, kalau mau ke Hong Kong dan Macau ga perlu urus visa ya. Di sini perlu aku tekankan kalau kami backpacker dengan low budget. Jadi, yang mau jalan2 ke Hong Kong dan Macau bawa anak kecil atau yang ga biasa bersusah2an, monggo cari alternatif lain, hehe.

Cuma bawa 1 tas ransel ini aja

Kami berangkat dari Surabaya menuju Jakarta naik kereta ekonomi Kertajaya jurusan Statsiun Pasar Turi Surabaya – Stasiun Pasar Senen Jakarta seharga IDR 150K/orang (update harga sekarang IDR 230K). Dari Stasiun Senen, kami ke Stasiun Gambir naik TransJakarta (tarif IDR 3,5K/orang) dan dari Gambir naik Bus Damri ke Bandara, harga tiketnya IDR 40K/orang. Sebelum menuju ke Bandara, kami nge-Mall dulu sekalian ngadem sih karena Jakarta panas banget.

Sampai di Bandara kami sempet nunggu lumayan lama karena pesawat baru take off jam 9 malem sementara kami sudah ada di Bandara jam 4 sore. Sesuai jadwal, kami akan tiba di KL jam 23.55 waktu setempat. Setelah tiba di KL, kami memutuskan menginap di Bandara karena sayang kalau nginep di hotel dan butuh transport lagi untuk dan dari bandara – hotel. Dan kami menemukan tempa menginap yang nyaman, yaitu di mushola, hihi. Kebetulan di KLIA 2 ini, musholanya bersih dan kosong. Awalnya kami memang mau sholat saja, tapi karena melihat space yang luas dan sepertinya nyaman untuk dijakdikan kamar sementara, makan kami memutuskan untuk bermalam disana dengan beralaskan sajadah dan berselimutkan mukena.

Mushola di KLIA 2

Jam 5 subuh, selesai sholat kami keluar dari mushola (sebelum diusir petugasnya) dan menuju toilet untuk membersihkan dan menyegarkan diri sekaligus ganti baju. Kami sengaja ga cari sarapan karena kami tau nanti di pesawat bakal dapet makan (Ya ampun segitunya, hahaha). Jam 8 pagi kami check in, menuju imigrasi, dan duduk cantik di ruang tunggu.

Duduk cantik di ruang tunggu

Pesawat kami akan berangkat dari KL menuju Hong Kong jam 10.15. Harga promo super murah cuma 800K saja, udah dapet makan minum dan bisa nonton film atau main game. Perjalanan ditempuh selama kurang lebih 4 jam, pengalaman pertama naik pesawat selama itu, hehe.

Makanannya lumayan enak kok

Sampai di Hong kong dengan perasaan deg2an plus super excited karena pertama kalinya kesana, kami disambut dengan petugas imigrasi yang ramah. Sempet deg2an banget waktu pemeriksaan passport karena aku baru pertama kali kesana, takutnya ga boleh masuk atau harus diinterview, tapi semua berjalan lancar (fiuh). Keluar dari Bandara, kami memutuskan naik bis menuju hotel. Untuk mempermudah naik transportasi umum, kami membeli kartu Octopus seharga H$ 150 atau IDR 250K. Kami naik bis A21 dan turun di Middle Road. Jangan khawatir nyasar, bisnya sangat informatif kok. Tiap pemberhentian akan diinfo melalui tulisan yang ada di bagian depan bis.

Bus A21

Sesampainya di pemberhentian kami, petualangan mencari hostel pun dimulai. Ternyata ga semudah itu menemukan hostel kami. Untungnya kami bertemu dengan orang Indonesia yang bekerja di Hong Kong. Dia mengantar kami bahkan membantu kami check in (terima kasih).

Everest Base Camp Hostel, Double Room, IDR 385K/malam

(Reception-Rm 7,14/F,Blk D)Flat D2,17/F Block D,Chungking Mansion,40 Nathan Rd, Yau Tsim Mong District, Hong Kong

Hostelnya sangat sempit tapi cukup nyaman sih. Karena disana lagi musim dingin (13 derajat) jadi AC di kamar pun kami matikan.

Beberapa spot yang kami kunjungi:

  • The Peninsula

The Peninsula adalah hotel mewah bergaya Victoria yang dibangun tahun 1928. Letaknya ga jauh dari Everest Base Camp Hostel, dari pintu keluar gedung, jalan aja ke arah kiri tepatnya di Salisbury Rd, Tsim Sha Tsui, Hong Kong.

  • Hong Kong Space Museum

Tepat di seberang the Peninsula ada museum ini. Aku ga sempet masuk sih, cuma kalau dari namanya, harusnya sih ini museum tentang astronomi gitu. Kalau mau masuk, tiketnya H$10 untuk dewasa dan H$5 untuk anak2. Buka dari jam 1 siang sampai 9 malam.

  • Avenue of Stars

Masih di daerah Tsim Sha Tsui, tibalah kami di Avenue of Stars. Semacam Hollywood of Fame tapi ini bukan bintang bernam ayang diinjek melainkan replika tangan artis2.

  • Clock Tower

Sampailah kami di area Victoria Harbour. Kami disambut dengan clock tower ini dan orang2 semakin banyak terlihat disana. Sama seperti kami, mereka juga mau nonton Symphony of Light yang terkenal itu.

  • Victoria Harbour

Nah, tujuan kami ke Hong Kong adalah penasaran sama Victoria Harbour dan Symphony of Light-nya. Setelah menyaksikan sendiri ternyata menakjubkan. Meskipun dingin banget udaranya karena kami kesana pas Bulan Januari tapi tetep excited kok. Symphony of Light ini dimulai jam 8 malam. Kamu sudah harus ada di sana lebih awal biar dapet posisi yang PW.

Itinerary Hari 1

Selesailah perjalan di hari pertama kami di Hong Kong. Di hari kedua, kami memulai dengan naik MTR dari stasiun Tsim Sha Tsui yang ga jauh dari hostel kami. Ga kalah dengan hari pertama, kami masih akan melanjutkan perjalanan ke spot2 menarik di Hong Kong.

  • Nan Lian Garden

Salah satu spot favorit aku. Tamannya luas banget dengan suasana yang menenangkan dan menyegarkan. Padahal di sekeliling taman itu ada angunan2 yang menjulang tinggi tapi ketika masuk di dalemnya, kayak ada di dunia lain. Lokasinya ada di 60 Fung Tak Road, Diamond Hill, Kowloon buka dari jam 7 pagi sampai 9 malam. Untuk masuk ke dalem, ga ada tiket masuknya ya alias FREE.

  • Chi Lin Nunnery

Chi Lin Nunnery adalah komplek vihara yang terletak di 5 Chi Lin Dr, Sheung Yuen Leng, Hong Kong tepat di seberang Nan Lain Garden. Di sini juga free of entrance fee ya.

  • Golden Bauhinia Square

Berada di 1 Expo Dr, Wan Chai, Hong Kong semacam alun2 gitu lah. Tempat orang2 lokal ngumpul, nongkrong, ngobrol, dll. Nah, monumen yang di belakang itu namanya Golden Bauhinian. Bahunian merupakan emblem-nya Hong Kong.

  • 1881 Heritage

1881 Heritage

Pas arah balik ke hostel, eh nemu tempat ini. Dulunya tempat ini merupakan markas besar Polisi Marina Hong Kong dan sekarang jadi tempat shopping dan dining ala Victorian era gitu. Segala brand2 ternama ada di sini. Mungkin tempat favoritnya Syahrini nih. Lokasinya di 2A Canton Rd, Tsim Sha Tsui, Hong Kong.

Itinerary Hari 2

Selesai sudah menghabiskan 2 hari 3 malan di Hong Kong. Saatnya move on ke Macau naik ferry. Gimana ceritanya? Check it out!

Jalan-jalan ke Singapura Lewat Johor Bahru

Jalan-jalan ke Singapura Lewat Johor Bahru

Hi Readers,

Mungkin buat beberapa orang pergi ke Singapura itu udah biasa. Bahkan, kenalanku yang Crazy Rich Surabayan gitu katanya ke Singapura cuman buat benerin resleting tasnya. Ada juga yang jauh-jauh kesana cuma buat beli Parfum. Nah, kali ini aku mencoba trip ke Singapura (yang jelas bukan buat benerin resleting tas) karena memang pas dapet tiket promo dan pengen mencoba masuk Singapura melalui Johor Bahru.

Berbekal tiket super sale Aisaisa Jogja-Johor, aku dan adekku bisa liburan ke luar negeri. Kenapa ke Johor? Pertama, karena pas lagi murah banget (waktu itu dapet tiket Rp 159rb, macem harga tiket kereta Surabaya – Jogja ekonomi). Kedua, karena emang pengen liat yang namanya Johor karena belum pernah kesana juga. Jumat, 27 Nov 2015, pesawat berangkat jam 2 siang dari Jogja dimana aku berangkat dari Surabaya jam 12 malem naik bus (tiket bus Mira Surabaya-Jogja Rp 57rb dan cukup nyaman), sampe Jogja jam 5 pagi. Sempet mampir ke Malioboro buat sarapan dan sekedar jalan2 sebelum menuju ke bandara Adi Sucipto. Akses di Jogja yang udah gampang sejak ada TransJog, bikin kita ga pusing2 lagi dengan urusan transport. Berbekal Rp 3rb, kita sudah bisa sampai di bandara. kelemahan di bandara Adi Sucipto ini, belum ada shuttle bus seperti di Soekarno Hatta (secara dari terminal domestik dimana pemberhentian bus transJog berada ke terminal mancanegara itu lumayan jauh. Dan bisa bayangin dong, siang bolong, bawa tas ransel, mesti jalan kaki. Sesampainya di terminal mancanegara, kita langsung masuk ke ruang tunggu karena sebelumnya sudah web check in.

Sampai di Johor sekitar jam 5 sore waktu setempat (WIB+1), langsung menuju ke tempat pembelian tiket bus yang menuju Singapura (counter Causewaylink ini berada di lantai dasar, dekat UTM). Harga tiket bus adalah SGD 5 (sebenernya ada bus seharga SGD 1 tanpa harus beli tiket di counter, tapi emang dia datengnya ga tentu. Kalau mau naik bus ini, silahkan nunggu di pintu keluar karena pemberhentian bus ini tepat di seberang pintu keluar, sedangkan pemberhentian bus Causewaylink ada di kiri pintu keluar, tepat di pemberhentian taksi2).

This image has an empty alt attribute; its file name is C360_2015-11-27-17-51-50-138.jpg
Causewaylink Bus yang super unyu

Bus kita berangkat jam 6, jalanan lumayan macet, sehingga perjalanannya sekitar 1 jam untuk sampai di terminal JB Sentral. Dari JB Sentral masih harus nge-bus lagi untuk menuju ke CIQ (tempat pemeriksaan imigrasi), dari sana nanti naik bus lagi ke Singapura (cukup ribet dan melelahkan). Pas nyampe di dalam gedung imigrasi, buset antrinya panjang banget untuk cap passport doang. Waktu itu aku antri sekitar 2 jam. Pas giliranku, (deg) si petugas imigrasi sempet bolak-balik passportku dan nanya-nanya kepo gitu. Dengan nyantainya aku jawab semua pertanyaan si petugas, eh lha kok aku malah digiring ke lantai 2 oleh petugas imigrasi yang lain.

Di lantai 2 itu, ternyata banyak turis lain yang juga lagi deg2an (mungkin). Ada yang kopernya dibongkar, ada yang lagi diinterview di ruangan khusus tertutup gitu, dan ada yang lagi ngotot banget ngasih penjelasan ke petugas. Dalam hati, aku udah pasrah aja. Kalaupun ga boleh masuk, yaudah aku balik ke Johor lagi deh. Beberapa menit nunggu, namaku dipanggil dan passportku yang tadinya ditahan, dikembalikan dengan sudah dicap (yang artinya aku udah boleh masuk ke Singapura). Setelah aku analisa kenapa aku sampai dipanggil ke lantai 2 padahal aku sudah pernah ke Singapura sebelumnya, mungkin karena ini pertama kalinya aku masuk Singapura lewat darat (Johor Baru) dan dataku belum ada di database mereka.

Perjalanan menuju Singapura belum berakhir. Aku harus antri panjang lagi buat naik bus-nya (terlebih pas weekend ya). Perlu diperhatikan juga line antriannya, jangan sampai salah antri bus, ntar udah pajang2 antri eh salah line, harus ulang lagi ngantri dari belakang kan pengen matik, haha. Jadi, antriannya terdiri dari 4 lajur, ada yang menuju Queen street, ada yang menuju Kranji, silahkan diperhatikan baik2 petunjuknya yang usdah tertulis jelas). Kalau masih kurang yakin, silahkan nanya ke orang2 yang lagi antri, tapi jangan harap mereka se-ramah orang Indonesia ya dan jangan sakit hati pula kalau dicuekin, hehe.

Finally, I am here in Singapore after a long journey!

This image has an empty alt attribute; its file name is IMG_20151214_235641.jpg
Suasana Queen Street tengah malam

Sampai di Queen Street udah tengah malem, jalanan udah sepi, MRT pun juga udah ga beroperasi. Aku memutuskan untuk jalan kaki ke Little India, tempat dimana G4 Hostel yang sudah aku pesan berada (udah 2x nginep sini. Tarif untuk double room rp 475rb/malam, kamar mandi luar tapi bersih banget. Berada di kawasan Islami, dekat Mustafa Centre, dekat resto Halal, dekat stasiun MRT Little India). Sempet nanya sama orang India yang kayaknya pulang kerja dan dianterin sampai kawasan Little India (kebetulan searah sama jalan pulang doi, Thank God). Baru check in jam setengah 12, langsung keluar beli makan di Hawa Restorestoran halal yang berada di seberang hotel (jangan ragu, ini beneran halal meski yang jual orang Cina. Restoran ini buka sampe jam 2 malam).

G4 Hostel
Kartu buat masuk

Besok paginya, kita bangun kesiangan. Rencananya mau berangkat explore Singapura jam 8 pagi, tapi malah bangun jam 9. Setelah sarapan dengan sosis ayam yang super enak, roti, dan segelas teh hangat, kita melanjutkan perjalanan ke Merlion dengan MRT dari stasiun Little India menuju stasiun Raffles. Sengaja turun di situ karena pengen menyusuri tepi sungai Singapore.

Sesampainya di Merlion (sengaja ga upload foto Merlion karena udah meanstream banget, ahahah), beberapa kali berebut spot dengan wisatawan Jepang, akhirnya dapet juga foto yang bagus. Kemudian kita lanjut jalan kaki menuju Helix Bridge.

Helix Brigde

Jujur, panas banget dan lumayan jauh tapi kalau naik MRT juga nanggung. Dari Helix Brigde, kita melanjutkan perjalanan menuju Garden by the Bay yang juga masih satu kawasan. Tujuan kita ke Garden by the Bay adalah ke Flower Dome dan The Falls. Aku udah beli tiket di Indonesia melalui travelicious.com tiga hari sebelum berangkat (barusan aku cek webnya udah ga jualan tiket) dan tiket fisik akan dikirim ke rumah. Sampe di TKP, kita udah ga perlu antri2 buat beli tiket, tinggal ditunjukin aja. Untungnya pihak travelicious juga sangat helpfull mau membantu dengan pengiriman kilat, jadi sehari udah naympe.

This image has an empty alt attribute; its file name is IMG_20151125_194820.jpg
Tiket Garden By The Bay yang dikirim ke rumah

Setelah menempuh perjalanan panjang yang cukup melelahkan dan berpanas2an, masuk ke The Fall disambut dengan air terjun buatan yang menyejukkan (serasa menemukan surga di padang pasir, haha lebay). 

The Fall

Puas mengelilingi The Falls dari lantai satu sampe lantai 7, kita lanjut ke Flower Dome. Disana kita bisa liat berbagai macam bunga dengan berbagai macam bentuk dan warna.

Flower Dome

Ga lupa kita juga menyusuri Garden by the Bay bagian luar yang ga perlu tiket (totally freeee) sambil jalan menuju ke stasiun MRT untuk melanjutkan perjalanan ke Arab Street.

Luarnya Garden By The Bay

Perjalanan menuju Arab Street/Haji Lane ditempuh dengan menggunakan MRT (dari stasiun Marina – Stasiun Bugis) dari situ tinggal jalan aja. Di Arab Street ini terdapat Masjid Sultan, Kampung Glam, Murals, dan tempat beli oleh2 yang harganya cukup murah. Kita sempet sholat di Masjid Sultan sambil selonjoran bentar kemudian makan di resto yang ternyata punya orang Indonesia, menunya juga Indonesia banget, dan yang makan di sana juuga orang2 Indonesia (cuman aku lupa nama restonya). Kebetulan aku ketemu sama mas2 dari Jogja. Dia nyaranin aku ke National Gallery karena katanya lagi ada open house free ticket. Sempet ga tertarik sih, tapi yasudahlah mumpung disana jadi sekalian aja. Thanks infonya mas2 yang aku belom sempet nanya namanya.

City Hall

Puas mengelilingi City Hall dan sekitar, kita menuju ke stasiun City Hall menuju stasiun Little India untuk mengambil barang dan balik ke Johor sebelum malem (mengingat proses imigrasi yang panjang itu). Setelah kembali ke hotel untuk mengambil tas dan melepas lelah sebentar, jam 5 sore kita menuju stasiun Kranji untuk selanjutnya naik bus ke CIQ dan lanjut ke JB Sentral, Johor. Sampai JB Sentral sekitar jam 9 malem, kemudian cari hotel yang sudah dipesan sebelumnya (hotelnya deket sama JB Sentral, tinggal jalan dan terletak di kawasan pasar malam jadi gampang cari makanan di sekitar hotel, plus bersebelahan dengan Sevel. Tapi fasilitas hotelnya kurang bagus. Aku semaleman ga bisa tidur. AC-nya dingin banget, ga bisa diatur suhunya. Pintu kamar mandi jebol dan nimpa kakiku (haha, apes bener).

Paginya setelah sarapan, kita langsung cabut ke JB Sentral. Pas nyari2 dimana harus beli tiket bus tujuan Senai, tiba2 ada bapak2 yang nyamperin. Dia bilang kalau bus ke Senai barusan berangkat dan akan datang lagi satu jam kemudian. Karena pesawat kita berangkat jam 12.15 dan saat itu sudah jam 10 (terlalu mepet kalau mau berangkat jam 11 karena perjalanan JB Sentral-Senai sekitar 45 menit kalau ga macet), akhirnya kita memilih untuk naik taksi dengan tarif MYR 50 (sudah ditawar). Sesampainya di Airport ternyata masih jam 11 kurang, kita mampir dulu ke KFC. Kemudian kita menuju ke ruang tunggu. 

Ruang tunggu Senai Airport

Panggilan kepada seluruh penumpang Airasia dengan penerbangan menuju Jogja sudah terdengar. Aku masuk ke dalam pesawat. Suasana di pesawat sih biasa aja. Nah, pas pesawatnya lagi manasin mesin, lampu di pesawat tiba-tiba mati (perasaan udah mulai ga enak). Beberapa saat kemudian, seluruh penumpang diminta turun dari pesawat dan menunggu di ruang tunggu. Pesawat sempat delay 2 jam karena ada malasah teknis.

This image has an empty alt attribute; its file name is IMG_20151130_151748.jpg
Pesawat super murah

Tapi untung bisa sampai di Jogja dengan selamat. Sampai di Jogja, kita balik lagi ke Maliboro buat jalan dan menuju ke Terminal Giwangan jam 7 malem naik TransJog. Dari terminal Giwangan kita naik bus Mira ke Surabaya dan sampai Terminal Purabaya jam setengah 5 subuh. Finally, we’re home! Sampe rumah langsung tidur, bangun2 udah jam 2 siang (pingsan apa tidur? hehe).

Sekian perjalanan saya di Singapura. See you in another country gengs!

Exploring Gili Labak, Madura

Exploring Gili Labak, Madura

Beberapa waktu lalu, aku diajakin temen2 (bolang) ke Gili Labak, Madura. Ini adalah acara traveling paling dadakan dalam sejarah travelingku so far. Aku baru di-whatsapp Sabtu subuh padahal berangkatnya Sabtu malem. Tanpa persiapan apapun, aku iya-in aja karena kebetulan aku lagi free (maklum lah, jomblo, haha). Dengan berbekal 300ribu, masker snorkeling, dan beberapa baju, aku menuju meeting point yang sudah disepakati bersama (di kos salah satu temen). Aku standby di sana mulai dari jam 4 sore (karena menurut kesepakatan kita berangkat jam 5 sore). Apalah daya kenyataan tak selalu sama dengan harapan, kita baru berangkat sekitar jam 7 malem, itupun mampir makan bebek super antri dulu di daerah Tugu Pahlawan. Alhasil, kami baru benar2 meninggalkan Surabaya jam 10 malem.

Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang dan melelahkan, tibalah kami di Sumenep sekitar jam 2 malem. Sampai disana kami disambut ibu2 yang punya penginapan yang sudah kita pesan sebelumnya. Bukan penginapan biasa (jangan membayangkan penginapan dimana kita bisa tidur nyenyak di dalem kamar ber-AC dengan segala fasilitas yang ada ya), kenyataannya kita hanya disediakan 1 kamar (padahal kita berdelapan). Akhirnya kita memutuskan untuk memberikan salah satu temen yang udah capek nyetir kamar tersebut, sementara yang lain tidur ala ikan pindang di ruang tamu (tanpa sleeping bag, bantal, apalagi guling atau selimut) bersama backpacker2 lain yang saat kami datang udah pada tidur.

Sekitar jam 3 dini hari, kami dibangunkan oleh suara mas2 yang ga tau darimana datengnya. Ternyata dia yang punya tour serta penginapan tersebut. Sebelum nyebrang ke Gili Labak, mas tersebut (aku lupa namanya) memberikan sedikit info2 penting, membagikan masker dan pelampung, dan tak lupa kita berdoa dulu (biar selamet sampe tujuan gaes). Setelah itu, kita menuju perahu yang sudah diarahkan oleh mas guide-nya. Perjalanan ke pulau Gili Labak yang dimaksud memakan waktu sekitar 2 jam, terapung2 di tengah laut dari dini hari sampai matahari terbit bener2 pengalaman pertama buat aku. 

Jam 3 dini hari
Jam 5 subuh

Jam 5 subuh, tibalah kita di Gili Labak. Kenapa pagi2 banget nyeberangnya? Katanya sih biar ga rame dan bisa menikmati pulau dengan lebih leluasa. Bener banget, pas kita nyampe di pulau itu, baru ada rombongan tour kita aja, jadi bisa foto2 dengan bebas tanpa gangguan “cameo”, haha.

This image has an empty alt attribute; its file name is PicsArt_1447238073857.jpg
Serasa lau tmilik sendiri

Puas berfoto, kita nyemplung deh ke laut alias snorkeling. Sayangnya, kamera baru dibagikan di siang hari jadi udah agak telat sih foto2 bawah lautnya.

Sebelum nyemplung

Jam 1 siang kita istirahat smabil makan ikan. Sebenerya aku ga suka ikan, mual, tapi daripada ga makan (namanya juga di laut, mana ada pizza, hehe). Setelah makan, kita nyemplung lagi tapi dengan spot yang berbeda (agak ke tengah laut). Puas nyobain 3 spot, dan waktu juga udah sore, akhirnya kita memutuskan untuk pulang (karena besok senen udah pada kerja). Kita diantar dengan perahu yang sama, menempuh 2 jam perjalanan yang sama, dan terapung2 di lautan yang sama. Sampai di penginapan, ternyata orang2 udah pada antri buat mandi. Kamar mandi yang disiapkan sih banyak tinggal pilih aja mau yang gratis (antri banget) atau yang berbayar (antri dikit). Aku dan teman2 pilih yang berbayar aja biar cepet.

Selesai mandi, beberes, dan sebentar melepas lelah, kami pun berangkat menuju Surabaya sekitar jam 4 sore. Sempet mampir makan malem di Sampang sambil sekedar ngobrol cantik, kemudian melanjutkan perjalanan lagi. Jalanan sudah lumayan sepi dan temen2 udah pada anteng (tidur pules red.), termasuk aku. Pas bangun eh udah sampe rumah dengan selamat.