Kamar 808 (Edisi Horor!)

Kamar 808 (Edisi Horor!)

Kali ini aku akan sharing pengalaman pribadi yang agak ngeri2 sedaaap. Kejadian tersebut terjadi awal 2017 di apartemen yang masih aku tempatin sampai saat ini. Waktu itu aku masih single (jomblo red.) jadi masih tinggal sendirian. Alhamdulillah, sekarang sudah berempat, hehe.

Awal mula kepikiran beli unit di apartemen adalah untuk investasi. Eh, ga taunya sampai beranak pun masih belum bisa menginvestasikan apartemen ini karena masih ditempatin, hehe. Di Surabaya, apartemen memang lagi digandrungi oleh para jomblo dan pasangan muda. Developer pun berlomba2 membangun apartemen dengan segala keistimewaanya. Aku memilih membeli apartemen ini karena meskipun ga di pusat kota tapi letaknya cukup strategis, dekat dengan resto, cafe2 kekinian, bank, swalayan, dan akses jalan besar.

Apartemen ini mulai beroperasi bulan Mei 2016. Harganya saat itu di kisaran 200jutaan (kalau beli sebelum apartemen beroperasi, bisa dapet jauh lebih murah). Harga akan terus naik seiring dengan bertambahnya fasilitas. Akhir tahun 2016 aku tertarik beli satu unit studio di lantai 8 (kata orang sih angka 8 adalah angka keberuntungan, semoga begitu). Nomor unitnya 810 (angka “8” menunjukkan lantai dan angka “10” menunjukkan nomor kamar). Ukurannya ga besar, hanya 21 meter persegi dengan balkon menghadap kota berukuran 1×2 meter, cocok buat tempat merenung di malam hari, hehe. Setelah mengisi kamar dengan single bed, lemari baju, tv, kulkas dan kitchen set, aku pun mulai tinggal disini.

Aku berangkat kerja jam setengah 9 pagi. Kali ini aku bisa berangkat agak siang karena jarak apartemen dan kantor hanya 30 menit. Tapi kalau pas jam pulang kerja, jalanan akan lebih padat dan perjalanan akan memakan waktu lebih lama, bisa sampai 1 jam lebih (naik motor). Biasanya sih aku ga langsung pulang, nunggu jalanan agak sepi dulu. Kebetulan hari itu aku diajak buat nyobain cafe baru di deket kantor. Ga recommended sih, kayaknya ga akan aku ceritain disini, hehe. Gegara keasikan ngobrol, ga kerasa udah jam 10 malem.

Nah, cerita serem pun dimulai (siapin popcorn).

Jalanan saat itu udah lumayan sepi jadi sampai di apartemen lumayan cepet. Sesampainya di parkiran, aku berjalan menuju lift dan menekan lantai 8. Ketika pintu lift terbuka di lantai 8, tiba2 rasanya deg2an. Aku menyusuri lorong menuju ke kamarku yang berada paling ujung. Di lorong tersebut kira2 ada 16 unit yang berhadap2an (8 unit di kanan bernomor ganjil dan 8 unit di kiri bernomor genap). Meskipun lorongnya terang tapi tetep aja serem karena sepi banget. Dari kejauhan aku melihat ada sosok berdiri di depan pintu kamar 808 yang berada tepat di sebelah kamarku. Sosok itu tinggi, rambutnya pendek, bajunya hitam (dari kejauhan hampir kayak siluet). Dia hanya berdiri diam, kepalanya menunduk. Makin deg2an hati ini ketika semakin mendekati sosok tersebut. Aku mempercepat langkah dan cepat2 membuka pintu kamar. Pas pintu kamar udah kebuka, aku sempat melihat dari ujung mata kalau di sebelahku tuh ga ada siapa2, kosong. Tapi aku masih ga berani menoleh.

Setelah masuk kamar, aku mengunci pintu hingga 2x putaran. Lalu aku mandi dan siap2 untuk tidur. Sebelum tidur, seperti biasa aku memakai skin care wajib dulu. Tiba2, dari kamar samping ada yang mengetuk2 dinding. Aku berusaha berpikiran positif, “ahh mungkin ga sengaja”. Aku pun naik ke kasur bersiap tidur. Di saat mata udah hampir merem, aku denger di kamar 808 ada yang menggeser2 sesuatu yang berat (entah lemari atau kasur). Pikirku, “udah tengah malem gini kok sempet2nya mindahin kasur”. Terakhir aku melihat jam sebelum tertidur, udah menunjukkan pukul 12.35.

Besok paginya, aku berusaha melupakan kejadian semalam dan menganggap itu ga pernah terjadi. Aku beraktivitas di kantor seperti biasa. Sepulang kerja, aku mengambil paketan masker yang aku beli online. Pas ngambil paketan di resepsionis, aku iseng nanya ke security, “Pak, unit 808 baru pindahan ya?”. Si security langsung ngecek ke buku (mungkin itu buku sakti yang berisi data penghuni apartemen). Dia bilang “Unit 808 masih kosong mbak, memang mbaknya lihat ada orang disana?”. Nyesel banget udah nanya. “Kosong? Semalem itu kamar berisik banget lho pak, terus ada cowok berdiri di depan kamar” (ngomong sambil pengen nangis). “Ya sudah mbak nanti coba saya cek ya ke kamarnya”.

Duh, rasanya ga pengen balik ke kamar tapi aku mau tinggal dimana? Aku pun memberanikan diri. Daaan, sosok yang semalem aku lihat ada lagi disana. Masih berdiri diam di depan kamar 808. Kali ini aku berhenti, rasanya berat meneruskan langkah melewati sosok itu. Parahnya, sosok itu perlahan menolehkan kepalanya ke arahku. Aku langsung balik ke lift dan turun lagi ke resepsionis. Aku minta tolong security untuk mengantarku ke atas. Untungnya si security mau dan katanya sekalian mau ngecek kamar 808 apa bener udah ada yang nempatin tapi lupa ga lapor.

Moment2 mendebarkan kembali terasa ketika pintu lift terbuka. Ternyata ga ada siapa2 di lorong. Sepi. Security mengantarku sampai depan pintu kamar. Dia ketok2 kamar 207 tapi ga ada yang bukain pintu. “Tuh kan mbak kamar ini kosong, ga ada orang. Di lantai 8 ini masih banyak yang kosong mbak karena kan ini baru beroperasi apartemennya”. Aku langsung bilang makasih dan cepet2 masuk. Malam itu suara benda2 digeser dan ketukan di dinding terdengar lagi dari kamar 808, malam2 berikutnya juga, hingga membuat aku “terbiasa”. Sampai sekarang pun, kamar itu masih belum berpenghuni. Pegangan pintunya berdebu, tanda tak pernah terjamah.

Mungkin, kamar 808 sudah menjadi tempat favorit sosok tak kasat mata yang tiap malam mengadakan pesta.

Leave a comment