Yes, I am Pregnant! (2)

Yes, I am Pregnant! (2)

Aku mau share pengalaman kehamilanku yang kedua. Memang agak di luar dugaan sih ini, ga nyangka kok hamil lagi, hehe. Tapi alhamdulillah semua sesuai planning dan harapan dimana aku memang pengen punya dua anak sebelum memasuki umur 30-an. Kalau kata orang hamil di umur 30-an ke atas itu lebih beresiko. Selain itu, takutnya stamina udah se-strong saat sebelum umur 30-an. Jadi, feel saat tau hamil lagi tuh antara shock dan seneng.

Berawal dari kecurigaan dimana aku udah dua bulan ga mens. Aku pikir normal karena memang aku masih ASI ya. Bulan-bulan sebelumnya pun mensku juga belum teratur. Kadang sebulan skip, kadang dua bulan skip. Tapi kali ini rasanya beda aja. Kayak mood naik turun gitu. Hehe. Iseng dong aku testpack dan muncullah dua tanda merah dengan sangat jelas. Aku langsung kasih liat ke suamik. Ekspresinya sama denganku, antara shock dan seneng (sempet ga percaya juga sih).

Besok lusanya aku memutuskan untuk periksa ke dr. Hendrik (dokter kandungan langganan dari jaman anak pertama). Aku memutuskan datang sendirian di pagi hari soalnya aku pikir kalau sore biasanya hujan (kebetulan lagi musim hujan). Setelah absen, aku langsung menuju ke RSIA Lombok Dua Dua yang di Jalan Flores, Surabaya. Di jadwal sih dokternya praktek jam 10. Jadi aku berharap dapet antrian pertama dan langsung balik lagi ke kantor. Tapi kenyataan ga seindah ekspektasi, dokter baru dateng jam setengah 11. Meskipun aku dapet antrian kedua, tetep aja selesainya jadi molor.

Begitu namaku dipanggil, aku langsung masuk bertemu dr. Hendrik. Entah beliau bener2 inget aku apa pura2 inget, tapi beliau bilang “Ya saya inget. Gimana anak pertamanya? Umur berapa? Blablabla”. Setelah berbasa basi sebentar, aku langsung diperiksa. Dari hasil USG, yes, ternyata beneran hamil dan bahkan udah detak jantungnya. Usia kandungan saat itu 10 minggu. Biayanya: dokter = Rp 200,000 + admin = Rp 200,000 + obat (asam folat dan kalsium) = Rp 400,000. Sebenernya aku udah ga mau mengkonsumsi obat2an gitu tapi karena bayar dokter, admin, dan obat barengan jadi ga bisa kalau obatnya ga ditebus (sampe sekarang obatnya ga kesentuh sama sekali). Pun aku ga mengkonsumsi susu bumil atau apapun selama kehilaman pertama maupun kedua, hehe.

Oiya, aku sempat Q&A dengan dr. Hendrik masalah ASI. (A: aku, D: dokter)

A: bagaimana kalau masih meng-ASI-hi selama kehamilan? Apakah aman?

D: Gapapa selama ga ada kontraksi atau flek atau tanda2 bahaya lainnya karena ketika bayi menghisap payudara itu bisa mengakibatkan kontraksi ringan

A: Apakah ASI tetap keluar selama hamil?

D: Ya tetap keluar meskipun jumlahnya ga sebanyak saat ga hamil karena kalau hamil nutrisinya kan diserap sama bayi yang dikandung juga

A: Apakah kandungan ASI jelek saat hamil?

D: Tidak. Kandungan ASI akan tetap sama. Tapi memasuki usia kehamilan 5 bulan, ASI akan lebih encer dan rasanya akan hambar karena produksi hormon esterogen yang semakin meningkat menjelang kelahiran

Jadi, intinya meg-ASI-hi selama masa kehamilan itu GAPAPA ya buibu tapi perlu dilihat kondisi masing2 juga. Jangan terlalu dipaksakan dan jangan terlalu percaya mitos. Saat ini usia kehamilanku sudah memasuki trimester 3 dan aku masih meng-ASI-hi meskipun Skye udah minum sufor juga sebagai pendukung karena memang dia minum susunya tuh kuat banget dari lahir (saat ini sehari bisa 6-7x minum susu 200ml per minum langsung habis). Lagipula meng-ASI-hi merupakan salah cara mendekatkan ibu dan bayi secara personal, hehe.

Prediksi lahiran adalah di akhir Juni. Waktu anak pertama pun diprediksi lahir akhir Juni tapi ternyata meleset 2 minggu lebih lama karena anaknya masih betah di dalem perut, hihihi. Selama kehamilan kedua ini, aku sama sekali ga merasakan mual, muntah, ngidam, atau apapun yang ibu hamil rasakan pada umumnya (sama persis seperti kehamilan pertama). Bedanya, di kehamilan kedua ini sempet ketuban pecah, flek, dan rasanya lebih males ngapa2in aja. Padahal pas kehamilan pertama, aku masih double job, motoran sendiri kesana kemari, keujanan, dan rajin banget nyuci, beres2, bersih2. Lah kali ini tuh males ngapa2in deh pokoknya, pengennya nempel kasur terus. Mungkin faktor umur juga kali ya, hahaha.

Gitu aja sharing kehamilan keduaku buibu, pengalaman yang mungkin sekali seumur hidup aku alami, hamil di tengah2 virus corona. Ga parno sih cuman berhati2 banget jangan sampe jadi carrier. Untung dari kantor menerapkan work from home, meskipun modelnya gantian masuk kantornya tapi lumayan lah buat meminimalisir keluar rumah karena aku pengenannya #dirumahaja. Stay safe ya buibu 🙂

20th Month, Work from Home

20th Month, Work from Home

Beberapa bulan ini, kita semua, masyarakat dunia dihebohkan dengan kemunculan Corona (COVID-19). Virus yang awalanya diklaim muncul di Wuhan ini, terus menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Sejak diumumkan ada pasien yang positif corona di Indonesia awal Maret 2020 lalu, penambahan jumlah pasien di Indonesia semakin banyak. Bahkan per tanggal 18 Maret 2020, jumlahnya sudah mencapai 227, sembuh 11 orang, dan meninggal 19 orang.

Foto BNPB Pusat

Sebaran Kasus Covid-19 di Indonesia hingga 17 Maret 2020 (berdasarkan pengumuman dari

Pak Achmad Yurianto).

1. DKI Jakarta

2. Jawa Barat

3. Jawa Tengah

4. Jawa Timur

5. Yogyakarta

6. Banten

7. Bali

8. Kalimantan Barat

9. Sulawesi Utara

10. Kepulauan Riau

Nah, karena sudah semakin tidak terkendali, akhirnya bnayak perusahaan yang menerapkan sistem Work From Home untuk para pegaiwanya. Termasuk perusahaan suamik. Per tanggal 16 -21 Maret 2020, suamik bekerja dari rumah. Pun dengan sekolah2 termasuk Daycare Skye yang juga meliburkan seluruh aktivitas selama 2 minggu. Jadi, selama 1 minggu ini Skye quality time bersama bapak di rumah, hehe. Minggu depannya mungkin sama ibuk ya karena kemungkinan perusahaan tempat aku bekerja pun akan menerapkan WFH (semogaaa, hahaha).

Suka duka WFH yang dirasakan suamik.

Lagi kerja
Skye minta nonton Youtube

Menurutku, WFH memang efektif sih untuk mencegah penularan Corona, dengan catatan kalau benar2 mengisolasi diri di rumah ya. Nah, ini yang aku denger di berita, orang2 malah pada nongkrong atau liburan. Cerita dari temenku juga pas dia masuk drive thru Starbucks dan McD, eh disana pada banyak banget orang lho, bahkan lebih banyak dari hari2 biasa tanpa Corona. Terus, aku pernah lihat nih di sosmed, ada orang yang turun ke jalan dan bertanya ke orang2 “pada takut corona engga? kok masih pada aktivitas di luar rumah”. Dan rata2 menjawab “engga takut corona” bahkan mereka ga tau Corona itu apa. Baeklah (hela napas, buang perlahan).

Memang sih ya, namanya juga penyakit datengnya dari yang di atas, anggep aja kita lagi dikasih cobaan. C’mmon udah saatnya kita berpikir jernih untuk menghindar dari yang namanya penyakit. Toh klo kena, kita sendiri yang susah, belom lagi nyebar ke anak, pasangan, keluarga, tetangga, temen2, se-Indonesia. Kan, nyusahin orang lain juga. Well, Corona tidak menyebar dengan sendirinya. Ga perlu menyalahkan siapapun, pemerintah yang lamban, orang2 yang masih nekat ke luar negeri, perusahaan yang belum menerapkan WFH, dll. Kita hanya perlu “menjaga diri”.

Gimana caranya? (versi WHO)

  1. Cuci tangan sesering mungkin. Kalo ga memungkinkan? Misal lagi di perjalanan? Sediakan aja hand sanitizer.
  2. Terapkan social distancing atau “jaga jarak” minimal 1 meter. Klo tinggal serumah gimana? Ya ga mungkin juga sih kita jaga jarak 1 meter dengan anak, apalagi anakku masih bayik. Yang dimaksud ini lebih ke jaga jarak dengan orang di luar sana yang kita ga tau mereka habis berinteraksi dengan siapa, habis darimana, habis melakukan apa, dll.
  3. Hindari menyentuh mata, hidung mulut. Agak susah sih ini, khususnya bagi kamu wanita, apalagi yang dikit2 touch up, wkwkwk. Ya, dikurangin aja lah ya frekuensinya.
  4. Lakukan aturan bersin yang benar. Aku juga baru tau akhir2 ini sih, cara menutupi mulut ketika bersin itu ternyata pake siku, bukan pake telapak tangan, hihi. Karena belom terbiasa, jadi kadang masih suka pake telapak tangan sih. Tapi gpp, yang penting ditutupin aja klo pas bersin biar ga muncrat kemana2.
  5. Jika mengalami demam, batuk, dan kesulitan bernapas, segeralah berobat. Minimal periksa lah. Apalagi klo 3 hari ga kunjung sembuh dan bertambah parah. Masa’ iya sih sakit dibiarin aja. Dan yang paling bener sih, klo kalian sakit sebaiknya dengan kesadaran diri sendiri untuk menjaga jarak dengan orang lain. Entah sakit apapun ya, ga hanya Corona.

Penggunaan masker gimana? Ga wajib bagi yang sehat. Justru yang harus pake masker itu yang sakit atau ada tanda2 sakit. Ada sedikit cerita nih dari temen (kisah nyata). Kebetulan temenku itu tempat kerjanya di salah satu gedung perkantoran di Jakarta Pusat. Sejak wabah Corona ini, diterapkanlah pemeriksaan suhu badan sebelum memasuki gedung tersebut. Nah, temenku ini kan dateng bertiga sama temennya. Kebetulan ada salah satu temennya yang (sehat) pakai masker. Eh, temennya ini disuruh minggir sama petugasnya dan dibawa ke salah satu ruangan untuk pemeriksaan lebih lanjut. Di ruangan tersebut, selain diperiksa ini itu, dia juga ditanya2in panjang lebar “kenapa pake masker?”, “habis darimana?”, “terakhir kontak dengan siapa?” dan hal itu bikin dia telat masuk kerja. Sementara temenku dan temennya yang satu lagi (ga pake masker) setelah lolos pemeriksaan suhu badan langsung disuruh masuk ke gedung.

Namun, perlu digarisbawahi, Corona bukan penyakit yang tidak mungkin sembuh. Buktinya yang sembuh sampai saat ini sudah 11 orang (meski yang meninggal lebih banyak, hiks). Berilah dukungan terhadap orang2 yang diberi cobaan dengan penyakit ini. Jangan malah dibully dengan menyebarkan berita yang aneh2 karena justru itulah yang akan memperparah keadaan mereka, keadaan mental lebih tepatnya. Eits, tapi bukan berarti kalian terlalu “santuy” menghadapi pandemi Corona ini ya. Meski biaya RS nanti akan ditanggung pemerintah kalau kalian positif Corona, meski nantinya kalian hanya perlu tiduran di RS, tapi percayalah wahai kawanku se-Indonesia, sakit itu engga enak.

Semoga kita semua dalam keadaan sehat wal’afiat dan terhindar dari penyakit apapun ya 🙂

19th Month, It is a Girl!

19th Month, It is a Girl!

Ga kerasa usia kandungan sudah memasuki 23 weeks. Hari ini saatnya USG 4D. Bismillah semoga udah keliatan ya bentukannya. Soalnya USG 4D itu selain ketubannya harus bagus, posisi bayinya juga sangat menentukan. Klo mukanya ketutupan, ya wasalam deh. Jadi, bedanya apa antara USG 2D dan 4D? Penting banget emang USG 4D? Yuk, kita bahas sedikit dari segi orang awam ya (bukan dari segi kedokteran).

Bedanya USG 2D dan 4D itu:

  1. USG 2D hitam putih, sedangkan USG 4D lebih berwarna
  2. USG 2D hanya mendeteksi banyaknya ketuban dan ukuran bayi, sedangkan USG 4D lebih detail, bisa lihat bentuk muka, bentuk tulang, hingga organ dalam
  3. Dari segi harga, USG 2D jauh lebih murah dibanding dengan USG 4D
  4. Ga semua dokter punya alat untuk USG 4D karena harga alatnya lebih mahal kali ya

Penting kah USG 4D? Menurutku, once in 9 months selama kehamilan penting sih buat USG 4D karena hasilnya akan lebih detail ketimbang USG 2D. Bagi yang penasaran juga sama wajah bayinya, juga bisa dilihat dari USG 4D ini. Oiya, penting juga untuk memilih dokter yang recommended ya karena sayang aja udah mahal2, alatanya udah canggih, tapi dokternya kurang lengkap klo jelasin. Soalnya, meskipun kita bisa lihat sendiri hasilnya (biasanya bisa lihat langsung ke layar dan dapet print foto bahkan CD-nya) tapi kan cuma dokter tuh yang paham dan bisa jelasin tentang kondisi bayinya.

Klo aku, dari jamannya Skye selalu ke dr. Hendrik. Dokternya masih muda dan panjang lebar jelasinnya. Bahkan klo aku ga nanya apa2, ditungguin sama beliau buat mikir pertanyaannya, hahaha. Prakteknya, pagi di RSIA Lombok Dua Dua Surabaya yang Jl. Flores (bukan yang di Lontar) dan sore di apotek Darmo Surabaya. Aku selalu dateng yang sore soalnya pagi kan kerja.

Bisa WA dulu buat tanya2 dan ambil nomor antrian

Update harga dr. Hendrik tahun 2020:

  • Kontrol + USG 2D + foto : Rp 250,000
  • USG 4D + foto + softcopy (dikirim via email): Rp 450,000
Penampakan hasil USG 4D

Sebelum meriksa pake USG 4D, pasti dokternya bilang dulu “dilihat dulu ya ketubannya lagi bagus apa engga”. Soalnya beliau ga mau klo ketubannya pas ga lagi bagus, takutnya sia2 USG 4D-nya. Proses pemeriksaannya sekitar 1 jam, termasuk USG 2D buat ngeliat ketuban, dan dikasih penjelasan mengenai keadaan tulangnya, tengkorak, detak jantung, aliran darah, dan jenis kelamin. Yeess, it is a guuuurrrl!

Aku pun mulai mengenalkan sosok “adek” ke Skye. Aku bilang “adek” sambil ngelus2 perut. Eh dia ngerti lho. Tiap aku nanya “mana adek?” Skye langsung ngelus2 perutku sambil diciumin, hihihi. Semoga kalian akur2 sampe gede nanti ya nak. I love yooou all :*

18th Month, Happy Birthday Mom

18th Month, Happy Birthday Mom

Selamat tahun baru man teman

Bulan ini Skye sudah 1,5 tahun. Makin lincah, makin ga bisa diem, makin pinter, makin penasaran dengan segala hal. Skue sudah bisa ngucapin kata2:

  • Maem (maklum hobinya makan)
  • Meme (mimik atau minum)
  • Disitu, disana, kesitu, ini, itu
  • Lagi
  • Baby (artinya pengen nonton Youtube. Kenapa baby? Soalnya dia pertama kali nonton Youtube itu nontonnya Baby Shark)
  • Gatel
  • Bi (artinya mobil)
  • Bubu (artinya ibu)
  • Bapak

Kadang dia juga ngucapin kalimat yang kata2nya dia bikin sendiri tapi sambil nunjuk2 gitu, jadi aku dan suamik harus mengartikan sendiri kira2 maksudnya apa. Kalau kita ga ngerti gitu, eh dia ngamuk dong. Wkwkwk.

Penampakan ngamuknya

Tepat di tanggal 28 Januari ini, suamik ngasih surprise gitu. Udah lama sih ga dikasih surprise pas ulang tahun, hahaha. Seperti biasa, dia jemput aku sepulang kerja, lalu jemput Skye di Daycare. Tapi.. jalan pulangnya kok beda. Aku sih ga curiga karena sebelumnya aku pikir mampir cari makan dulu gitu. Eh, kok masuk parkiran Surabaya Suites. Waah, langsung girang dong. Ternyata suamik udah booking kamar di situ. Ga cuman itu aja surprise-nya. Pas nyampe kamar, dia ngeluarin kue tart (emang sih sebelumnya aku request kue tart di hari ulang tahunku nanti, wkwkwwk). Beneran diturutin dong.

Makasii suamik :*

Beberapa menit kemudian, ada yang ngetok pintu. Kirain dia udah pesen makan juga gitu. Dia suruh aku bukain pintunya. Daaan, dua orang sahabat saya nongol di depan pintu bawain chicken bucket sama lilin. Ini beneran surprise yang bertubi2 sih wkwkwk. Si Skye juga ikutan nimbrung menikmati ayam. Hadeuh nak, emang ga bisa liat makanan nganggur yak.

Terima kasih semuanyaaaa. Sungguh bulan yang luar biasa 🙂

Exploring North Quay Surabaya

Exploring North Quay Surabaya

Weekend kali ini, Skye akan berkunjung ke North Quay Surabaya. North Quay ini sebenernya pelabuhan yang dikelola Pelindo III. Ya segala macam kegiatan pelabuhan dilakukan disana (masih aktif sampai sekarang). Seperti keluar masuk kontainer, lalu lintas kapal mulai dari kapal ferry sampai kapal pesiar (kadang ada kapal pesiar yang bersandar di pelabuhan ini). Kebetulan suamik memahami perkapalan, jadi bisa dibilang sekalian wisata edukasi juga, hehe. Meskipun lokasinya cukup jauh dari rumah, tapi gpp lah sekali2. Lokasinya tuh di daerah Perak, Surabaya Utara sedangkan rumahku di Surabaya Selatan. Jadi lumayan dari ujung ke ujung nih. Wkwkwk.

Kami berangkat jam 10 pagi dan sampai sana sekitar jam 11 kurang. Agak bingung dimana parkir motornya karena minim petunjuk. Setelah nyasar dan ketemu orang yang bisa ditanya, akhirnya ketemu juga tempat parkiran motornya. Saat itu pengunjungnya masih sedikit, mungkin karena masih pagi ya. Dari tempat parkiran menuju ke pintu masuk, kami harus berjalan sedikit di tengah teriknya matahari dan hawa panas pelabuhan. Tapi begitu melewati pintu masuk, rasanya seperti memasuki dunia yang berbeda, adeeeemmm beneerr.

Sebelah kanan pintu masuk adalah ruang tunggu para penumpang kapal dan tempat jual oleh2. Sebelah kiri adalah ATM, toilet, dan wastafel. Kalau berjalan lurus, kalian akan menemukan ekskalator yang menuju ke lantai 2. Di ujung ekskalator, ada kaca besar buat liat pemandangan laut dan kapal2 yang sedang bersandar. Lantai 2 ini juga ruang tunggu tapi lebih luas dan lebih banyak kursinya. Ibaratnya kalau di bandara, ini semacam boarding room gitu lah. Jadi, banyak ruangan yang menuju gate masing2 keberangkatan kapal. Nah, sebelum naik ke lantai 3, kami harus beli tiket terlebih dahulu. Harga tiket masuknya Rp 10,000/orang (Skye ga diitung waktu itu) udah termasuk diskon 4ribu/orang buat beli makanan atau minuman di lantai 3 (murah kan?).

Setelah beli tikket dan dicap, kami naik ekskalator menuju lantai 3. Di lantai 3 ini banyakk stand2 makanan dan minuman. Lalu kami menuju pintu yang mengarah ke luar ruangan dimana kami bisa melihat kapal dan laut lebih dekat. Kebetulan saat itu ada kapal yang lagi nunggu buat berangkat. Kami mengamati isi dari kapal tersebut sambil dijelasin sama suamik apa yang ada di dalam kapal. Di luar ruangan tersebut, disediakan beberapa kursi dan meja berpayung jadi lumayan nahan terik matahari.

Beberapa menit kami duduk2 disitu menikmati pemandangan dan semilir angin laut, sedangkan Skye masih penasaran sama kapal jadi dia terus mengamati kapal sambil bilang “wooow apa tuh”.

Tiba2 kapal membunyikan bel yang cukup memekakan telinga (buset kenceng banget klo dari jarak deket). Skye nangis karena kaget dan dia akhirnya minta gendong terus, wkwkwk. Kami mengajaknya masuk ruangan dan membeli cemilan untuk menghilangkan trauma. Kami membeli es teh dan kentang goreng. Langkah pertama kami memesan dulu makanan atau minuman yang diinginkan, nanti akan dikasih kupon sama penjualnya. Kemudian bayar deh ke kasir dan tinggal nunggu aja makanan dan minumannya dateng ke meja kalian. Oiya, bayarnya juga bisa pake OVO dan ada cashbacknya lho.

Habis ngemil dan minum es teh, Skye udah kembali ceria dong. Alhamdulillah. Kami menuju ke luar ruangan lagi tapi dari sisi sebeah kiri. Disana ada semacam karpet rumput gitu buat lesehan. Tapi karena semalemnya hujan, jadi karpetnya basah deh. Padahal klo ga basah, Skye pasti seneng deh glesotan disitu. Sayangnya, klo siang terutama jam 12 ke atas, area sini tuh panas banget dan ga ada penutupnya. Akhirnya ga betah berlama2 disana kami pun memutuskan untuk pulang.

Alhamdulillah hari ini Skye mendapatkan pengalam pertamanya melihat dan memperlajari kapal 🙂

17th Month, Hi Lil Buddy

17th Month, Hi Lil Buddy

Udah 2 bulan nih ga mens, dag dig dug. Memang sih sejak meng-ASI-hi secara ekslusif mensku jadi agak ga teratur gitu. Sebulan kadang ga mens, dua bulan skip, nanti bulan ketiga keluar. Tapi yang ini agak kuatir ya, soalnya beberapa bulan sebelumnya (sejak Skye sudah minum sufor), mens sudah mulai teratur tiap bulan. Nah, ini dari bulan September sampai Desember belom juga dateng itu “tamu” nya. Jadi aku memutuskan untuk beli testpack secara diam2. Hasilnya, jeng jeng jeng, dua garis merah terlihat sangat jelas. Wadaw. Buru2 aku info ke suamik, dan dia terkejoed (aku pun begitu).

Selang beberapa hari, aku memutuskan buat periksa ke dr. Hendrik (dokter yang rutin memeriksa Skye salama di kandungan dulu). Yes, memang sudah ada janin di dalemnya dengan usia sekitar 10 weeks (baeklah). Antara seneng sama kaget sih, hahaha. Secara ngurusin Skye aja kadang masih ngeluh capek, lah ini mau ada lagi (ampooon). Tapi gpp sih, mumpung masih belom kepala 3 kan ya, masih setrong buat ngurus dua anak kicik dan masih belom resiko (denger2 sih kalau udah masuk kepala 3 udah mulai resiko, hmm entahlah).

Tarif dr. Hendrik ternyata naik dari yang pas jaman Skye dulu cuma 150rb, sekarang jadi 200rb. Udah gitu aku diresepin asam folat dan vitamin buat tulang gitu. Total pengeluaran pada pemeriksaan pertama ini adalah 800rb (damn). Padahal nih ya, aku tuh paling males buat minum gituan, susu bumil aja jarang minum. Aku sih yakin ya, nutrisi dari makanan yang aku makan aja udah cukup buat kebutuhan bayi di dalam kandungannya. Lagipula, vitamin tulang itu justru bikin tulang aku cekot2.

Minggu depannya setelah periksa dan ternyata aku hamil, aku ikut outbond dong, hahaha. Soalnya kau pikir pasti aman2 aja lah. Toh, kata bos outbound-nya ga yang ekstrim gitu kok. Pas outbound sih, yes, aku baik2 aja. Lari2an bahkan ikutan paintball (tiba2 lupa aja kalo lagi hami, hahaha).

Penampakan bumil ikutan outbound
Kayaknya cuma aku deh bumil yang ikutan paintball

Beneran, waktu outbound seharian itu ga kerasa capek atau gimana. Terus kita kan masih nginep di villa sampe besoknya, itu pun aku cek ga ada tuh flek2 atau sakit2 perut gitu. Jadi, aku merasa semua baik2 saja. Cuman pas udah pualng ke rumah masing2, baru deh kerasa kaki pegel2 gitu, hahaha.

Nah, hari Senen, aku masuk kerja seperti biasa. Semua masih normal. Sampai pada jam 11 siang, tiba2 kayak keluar pipis yang ga bisa ditahan. Aku cepet2 ke kamar mandi, ternyata darah bercampur cairan bening gitu yang keluar. Mencoba untuk santuy dan minta pembalut ke temen sekantor, lah temenku yang panik wkwkwk. Aku WA ke suamik, minta tolong dianter ke RS terdekat. Panik dong suamik dan langsung nyamperin beberapa menit kemudian. Sepanjang perjalanan dari kantor ke RS tuh masih keluar terus cairannya.

Waktu itu aku ga tau nih suamik bakal bawa aku ke RS mana. Ternyata dibawalah aku ke RS Siloam yang memang paling deket dari kantor. Nyampe disana, aku langsung disuruh tiduran di IGD. Awalnya cuma ada petugas yang nanya2, “ini kehamilan ke berapa?” “sejak kapan keluar cairannya” blablabla. Selama nunggu dokter yang meriksa itu, cairan masih keluar sampe celanaku basah dan dikasih Underpad biar ga tembus ke kasurnya. Sekitar 30-45 menit kemudian, ada perawat yang dateng buat cek itu cairan apa yang keluar. Dia bawa kertas lakmus dan ditempelkan ke cairan tersebut. Ternyata itu air ketuban dong. Mulai panik lah kita, termasuk perawatnya.

Setelah diketahui cairan yang keluar itu adalah ketuban, perawat coba cek darah yang diambil dari telinga katanya untuk tau apakah ada penggumpalan apa engga. Lalu ada lagi yang dateng buat ngecek udah ada pembukaan apa belom (makin panik lah kita). Di situ aku udah pasrah deh, kalau misal harus kehilangan si bayi ya udah lah ya daripada dipaksakan tapi nanti bayinya kenapa2 pas lahir. Tapi ternyata hasilnya semua normal dan belom ada pembukaan. Langkah selanjutnya adalah USG buat tau keadaan ketuban dan bayinya. Kemudian dibawalah aku beserta kasurnya ke ruang dokter kandungan, melawati kerumunan orang2 yang lagi antri dokter (OMG).

Sampe di ruang dokter kandungan, si dokter mulai melakukan USG. Dia ga percaya lho kalau ketuban aku keluar soalnya kata dokter ketubanku masih ada dan jumlahnya banyak. Bayinya juga pas di USG tuh lagi nendang2 gitu. Alhamdulillah. Tapi aku ga diijinkan pulang dan harus rawat inap selama 2 hari ke depan. Untungnya RS Siloam ini terima BPJS (sempet ga nyangka sih RS swasta segede ini mau terima BPJS). Kebetulan BPJSku kelas 2, dan rencana aku mau naik ke kelas 1, tapi ternyata lagi full. Kelas 2 pun lagi penuh katanya. Jadi, aku turun ke kelas 3 diaman satu kamar ada 8 tempat tidur. Tapi ga seperti yang aku bayangkan lho.

Kamarnya cukup luas dan bersih. Sehari 3x pasti ada yang bersihin kamar dan kamar mandi. Pertama kali masuk cuma aku aja yang nginep situ. Sampai di hari kedua malem, dateng lagi pasien baru. Makanannya pun cukup enak dan variatif. Dan kalian tau the best part-nya? Biaya rawat inap, obat, plus dokter yang aslinya 2jutaan jadi ga bayar sama sekali. Jadi, selama 3 hari 2 malem di RS Siloam ini, aku cuma modal 3 ribu doang buat parkir. Hahaha. Terima kasih BPJS 🙂

Baru kali ini dapet tagihan tapi girang

Berdasarkan pengalaman pribadi, I will recommend RS Siloam Surabaya. Meskipun penanganan di IGD tergolong lama, tapi overall sangat memuaskan.

16th Month, Playing with Chicken

16th Month, Playing with Chicken

Saatnya mengunjungi mbah Skye di Madiun. Horeey! Kami memutuskan naik kereta karena memang paling efisien. Kereta Sancaka tujuan Surabaya – Yogyakarta dimana kami turun di Stasiun Caruban merupakan andalan kami untuk berkunjung ke Madiun. Kalau di kereta, Skye bisa jalan2 menyusuri lorong2 kereta, sementara kalau naik bis (boro2 mau jalan, duduk aja udah bikin pusing). Belom lagi kalau macet, bisa makin lama nyampenya.

Jam 5 sore, sepulang kerja, kami langsung menuju Stasiun Gubeng yang lokasi hanya 5 menit dari kantorku dan Daycare-nya Skye. Kereta berangkat jam setengah 6 sore dan sampai di Stasiun Caruban jam malam 8 malam. Kami memilih kereta jenis Ekonomi saja seharga Rp 120,000/orang. Meskipun ekonomi, tapi keretanya ber-AC dan kursinya ga berhadap2an (kursinya sama seperti yang eksekutif tapi lebih sempit aja), tidak seperti kereta ekonomi lainnya.

Update: baru2 ini Kereta Sancaka udah ga bisa turun di Stasiun Caruban lagi, hanya bisa di Stasiun Madiun. Huhuhu, sedihnya.

Setelah aku mengamati dunia perkeretaan, ternyata kalau kereta ekonominya gabung sama eksekutif atau bisnis, biasanya tempat duduknya ga berhadap2an dan lebih nyaman. Tapi kalau keretanya hanya ekonomi saja, terutama jarak pendek, sudah bisa dipastikan kalau tempat duduknya akan berhadap2an, lebih sempit, dan bangkunya ga ergonomis (bikin punggung sakit cooy). Untuk lebih memastikan lagi, bisa dicek waktu milih tempat duduknya.

Kalau di Madiun Skye tuh seneng banget, serasa punya tempat bermain yang luas. Dia bisa main sama ayam, main di kebon bunga, sampe glesotan di teras. Pokoknya Skye bisa bebas dari gadget lah selama disana dan lebih bermain dengan alam yang mana udah jarang banget ditemui di Surabaya.

Main anak ayam
Jagain bapak ayam biar ga kabur
Mandi outdoor

Makan juga jadi lebih sering karena mbahnya selalu bikin makanan atau kue yang enak2. Pernah tuh ya, paginya dia udah makan sop, terus makan bolu pandan, terus makan bubur, terus masih minta jajanan pula. Siangnya makan pisang, terus makan bolu pandan lagi, terus makan bayem. Sorenya makan es campur. Malemnya makan bolu pandan sama bubur. Gilak.

Ngemil terooos

Sayangnya, cuma bisa beberapa hari aja di Madiun dan harus balik ke Surabaya untuk cari duit lagi, hahaha. See you next time 🙂

15th Month, Big Bad Wolf 2019

15th Month, Big Bad Wolf 2019

Bulan November ini adalah bulannya Big Bad Wolf. Bagi yang belom familiar, Big Bad Wolf merupakan pameran buku terbesar yang awalnya digelar di Malaysia pada tahun 2008. Beberapa tahun ini, Big Bad Wolf juga digelar di beberapa kota besar di Indonesia. Salah satunya Surabaya. Jujur, aku belom pernah mengunjungi Big Bad Wolf ini karena mendengar cerita dari adek yang tiap tahun dia ga pernah absen, katanya disana bakal penuh orang, antri, dan segala macem, jadi aku sama sekali ga tertarik untuk kesana (meskipun sudah ditawari free tiket). Tapi tahun ini, aku berencana kesana untuk membeli beberapa buku untuk Skye. Berbekal 2 free tiket dari teman saya yang kebetulan jadi panitia.

Pulang kantor, aku balik dulu ke rumah dan pergi ke Big Bad Wolf sekitar jam 9 malam (berharap disana sudah agak sepi). Ternyata tidak saudara2! Pengunjung masih lumayan rame meskipun ga serame yang aku bayangkan selama ini. Masih ada space lah buat kereta dorong. Btw, Skye juga ikut lho. Dia sempet tidur bentar karena memang tempatnya lumayan adem. Kalau kata temenku yang jadi panitia disana, tahun ini kebetulan lagi banyak2nya buku anak, jadi ya itu juga yang jadi alasanku buat bertekad kesana.

Semakin malem, jumlah pengunjung semakin berkurang. Meskipun agak ngantuk sih tapi aku belom puas berkeliling. Memang benar, banyak banget buku untuk anak2 yang dibandrol dengan harga 50ribu sampai 150ribu. Secara aku kan udah jarang sih beli buku, jadi begitu lihat2 buku2 jaman now jadi agak katro’ aja. Apalagi pas lihat buku 4D dimana gambar2 di dalam buku tersebut bisa gerak2 plus bersuara (luar biasa). Kita tinggal download aplikasinya aja di HP Android maupun Apple, lalu deketin layar ke arah gambarnya dan jreng jreng kita bisa liat tuh babi joget2 riang. Dan aplikasinya itu GRATIS lho. Kurang canggih apa coba.

Penampakan buku 4D plus aplikasi
(itu gambar babinya bisa gerak2)

Setelah hampir 2 jam berkeliling, akhirnya aku memutuskan pulang dengan membawa 3 buku untuk Skye. Meskipun Skye belom bisa baca tulis, tapi gpp lah ya itung2 buat simpenan nanti, hehe. Buku pertama yang aku belikan buat Skye adalah “My Little Treasures”. Bukunya itu tentang kucing dan anjing yang kebetulan Skye lagi suka banget sama kucing (sejak dia berkenalan sama kucing Adekku). Mostly gambar sih, tulisannya cuma satu kalimat aja. Buku yang kedua, yes buku 4D dengan judul “Three Little Pigs” yang bikin aku terheran2 tadi. Sebenernya mamaknya yang lebih pengen beli sih. Keren aja gitu bisa lihat gambar yang di dalem bukunya bisa gerak2, kan lucuuu. Hahahaha. Buku terkahir, buku belajar menulis yang bisa dihapus (wow, ga kalah keren ini buku). Meskipun ga bakal dipake dalam waktu dekat, tapi aku yakin buku ini pasti akan berguna nanti di saat Skye belajar nulis. Isinya tuh kayak titik2 gitu jadi si anak tinggal ngikutin titik2nya dan berwarna warni (karena kebetulan yang ini emang temanya lebih ke warna ya).

Buku hasil berburu di Big Bad Wolf

Total ketiga buku ini cuma Rp 225,000. Kok cuma? Yes, karena buku ini canggih banget menurut aku, bukan buku biasa, hahaha. Mungkin kalau cari di toko buku dapetnya bisa jauh lebih mahal, apalagi buku 4D itu bisa ratusan ribu kali ya.

Okay, sekian perjalanan Skye mengelilingi Big bad Wolf dalam rangka mencari buku2 unik. Semoga bisa mampir ke Big Bad Wolf 2020. See you 😉

Perlukah Bayi Memakai Bedak?

Perlukah Bayi Memakai Bedak?

Klo aku lihat ada anak kecil apalagi bayi yang mukanya putih banget gegara bedak yang ga rata, rasanya gatel tangan ini buat nyuci mukanya sampe bersih sambil bacain ayat kursi (lah?!). Kesian banget sih, nak. Biar apa bayi dibedakin sampe segitunya dan ga rata pula? Bukannya malah cakep tapi malah menakutkan. Huh.

Waktu Skye lahir, suster di RS bilang “bayinya jangan dibedakin ya bu”. Tiap Skye selesai dimandikan, aku lihat kok ga ada wangi2 bedaknya. Lalu waktu ibu mertua mau ngasih bedak ke pantat Skye dan ketahuan suster, langsung deh disuruh ngilangin bedaknya pake tissue basah. Aku mulai cari tau kenapa kok ga boleh dibedakin. Jawabannya adalah karena partikel yang ada di dalam bedak bisa menyebabkan masalah di kemudian hari. Sejak saat itu aku termasuk ibu2 yang anti bedak.

Area paling haram untuk dibedakin tuh ada , yaitu muka dan kemaluan. Klo bedak dipake di muka bayi dan terhirup, bisa sesak napas atau dalam jangka panjang bisa menyebabkan masalah2 lain. Sedangkan klo bedak dipake di area kemaluan, dalam jangka panjang bisa tertimbun (apalagi klo pas mandi ga bener2 bersih). Efeknya bisa menutupi jalannya pipis sehingga anak jadi berkurang kuantitas pipisnya atau bahkan ga bisa pipis. Hal ini bener2 terjadi di anaknya temenku lho.

Begini ceritanya…

Selama dua hari berturut2 temenku bilang klo diapers anaknya selalu kering. Dia pikir mungkin anaknya kurang minum. Lalu dipaksa anaknya untuk lebih banyak lagi minumnya. Di hari ketiga, anaknya nangis terus. Karena anaknya masih umur setahun setengah dan belum bisa cerita, temenku jadi bingung. Dibawalah ke dokter. Setelah dicek, dokternya nanya “apa area kemaluannya dikasih bedak bu?”. Temenku jawab iya. Kata dokternya “ini jalan pipisnya ketutup timbunan bedak bu, adeknya ga bisa pipis dan jadi sakit”. Temenku shock ternyata bedak bisa membuat masalah seperti itu. Besok2nya, temenku ga pernah lagi ngasih bedak ke anaknya, terutama di area kemaluan.

Hmmm, ngeri juga ya. Untung segera dibawa ke dokter. Mungkin ada yang bertanya2, orang jaman dulu anaknya dikasih bedak fine2 aja tuh. Atau.. Orang di desa anaknya juga dibedakin dan gapap tuh. Aku juga sempet sih berpikiran seperti itu. Tapi setelah mencoba melogika, kemungkinan:

  1. Hidung kan dilengkapi bulu yang berfungsi sebagai filter. (Mungkin) pas partikel bedak yang ga sengaja kehirup itu suda ter-filter dengan baik jadi ga sampai masuk lebih dalam lagi.
  2. Mandinya sudah bersih banget jadi si bedak ga sampe tertimbun di kemaluan.
  3. Bedak jaman dulu dan sekarang kan beda ya. Bedak jaman sekarang (mungkin) banyak bahan kimianya bahkan ada yang pake parfum biar wangi bedaknya, jadi lebih ga aman klo sampe terhirup.
  4. Klo di desa (mungkin) kan udara masih bersih. Jadi meskipun partikel bedaknya terhirup si anak, ga akan berpengaruh besar. Sedangkan di kota, selain partikel bedak, anak juga ngehirup polusi.
  5. (Mungkin) anaknya udah ada tanda bermasalah karena si bedak, misal pipisnya sedikit seperti yang dialami anak temenku, tapi ibunya kurang aware atau menganggap hal yang ga perlu dikhawatirkan
  6. Klo orang jaman dulu atau orang yang tinggal di desa kan suka pake obat tradisional, (mungkin) setelah diobatin pipisnya jadi lancar lagi tanpa ke dokter sehingga mereka ga tau penyebabnya ga bisa pipis itu apa

Baru kemungkinan2 aja sih, yang jelas ga semua anak bermasalah dengan bedak. Menurutku bedak itu fungsinya ga terlalu esensial apalagi buat ditaburin di muka dan area kemaluan bayi. Klo cuma buat wangi2an aja, aku rasa minyak telon juga udah wangi bayi banget. Apa biar kelihatan udah mandi? Hmm, mandi kan untuk kebersihan si bayi itu sendiri bukan supaya “kelihatan” sudah mandi, “kelihatan” putih, “kelihatan” cantik (egoisme ibu semata). Jadi, seberapa pentingnya penggunaan bedak untuk bayi?

14th Month, Explore!

14th Month, Explore!

Kalau bulan kemaren Skye sempet kena cacar, kali ini virus itu menulari bapaknya, hehe. Setelah aku telusuri, ternyata si suami emang belom pernah kena cacar sih. Heuh. Awalnya, pas hari Kamis, si suami udah ngeluh badannya ga enak dan agak demam gitu. Aku pikir ya kecapekan biasa. Aku kasih obat dan suruh dia istirahat aja. Hari Sabtunya, kita ke Malang tuh karena mau ada arisan keluarga. Alhamdulillah si suami bilang udah agak mendingan (soalnya kalau masih sakit ya ga usah ke Malang aja pikirku). Sampai di Malang, malemnya badan doi panas lagi. Aku kasih obat dan paginya udah ga panas. Malemnya, kok panas lagi (ada yang ga beres ini). Terus aku amatin, mukanya mulai merah2 tapi belom sampe keluar bentol2nya. Sambil becanda aku bilang “jangan2 kamu ketularan Skye tuh kena cacar”. Tapi si suami bilang “ga mungkin lah, masa’ anak bayi nularin orang dewasa” lah namanya virus kan yak (batinku).

Dan begitu hari Minggunya, pulang dari arisan keluarga, mulai muncul semacam jerawat di mukanya. Aku bilang “tuh cacar”. Dia masih ga percaya dan malah kasih obat jerawat. Akhirnya Senen paginya baru tuh keluar semua bintik2 merahnya semuka, badan, dan tangan. Langsung aku suruh dia ke dokter dan ga usah masuk kerja dulu. Bukannya panik sih, tapi aku suruh dia ke dokter buat minta surat dokter untuk keperluan ijin ga masuk kerja plus minta salep atau obat apa igtu biar nanti ga sampe membekas. Soalnya dari pengalaman bulan lalu waktu Skye kena cacar dan dikasih obat sama dokternya, begitu kering, itu ga ada bekasnya sama sekali.

Penampakan cacar suami

Dua minggu terisolasi di rumah, cacarnya udah mulai kering dan rontok dengan sendirinya. Tapi doi masih stay di rumah karena takutnya masih bisa menyebar virusnya karena belom sembuh total. Terus aku dikabarin kalau mamaku juga kena cacar! Wow, nak, kamu menulari banyak orang ternyata. Awalnya dikira tipus soalnya kok panas naik turun gitu, ternyata beberapa hari kemudian keluar bintik2 merahnya menyebar ke muka dan badan. Fix cacar!

Minggu terkahir di bulan September, semua sudah kembali sehat. Bapaknya sudah mulai masuk kerja, Skye sudah kembali ke Daycare, dan mamaku juga udah bisa beraktivitas seperti biasanya. Alhamdulillah. Mamak pun turun bahagia, hahaha.

Sejak Skye udah bisa jalan, ini anak jadi hobi banget explorasi. Mulai dari bongkar2 (lemari baju, lemari makanan, rak sepatu, box mainan), naik ke atas bantal buat ngintip ada apa di atas meja, sampe tiba2 nyelonong keluar beigtu pintu dibuka. Udah mulai dalam fase “waspada” nih emaknya. Dia juga lagi penasaran sama apa aja yang ditemui jadi suka masukin semua ke dalam mulut, nglemparin mainan ke berbagai arah (bahkan ga jarang kena muka orang lain), hihi. Ada aja lah pokoknya. Oiya, ini anak hobi banget ngemil (bukan makanan berat ya). Jadi, di rumah tuh harus selalau ada snack, roti, atau kerupuk. Pokoknya dia ga tau waktu banget minta ngemilnya. Pernah tuh, subuh2 baru bangun tiba2 minta ngemil atau makan kerupuk sampe ketiduran. Paling parah, pas lagi ujan2 naik motor di dalem jas hujan doi kan sambil ngemil kue tuh eh ketiduran dong sambil megangin kue-nya yang belum abis, terus pas dibangunin dia ngunyah lagi (bisa gitu ya).

Ngemil time

Tiap diajakin nge-Mall, dia juga udah minta mainan (gawat banget ini mah). Kalau ga diturutin, dia nangis tapi cuma bentar sih. Untungnya Skye ini termsuk anak yang pengertian, jadi kalau dibilangin gitu dia ngerti meskipun sambil nangis, haha. Kenapa ga diturutin aja? Soalnya aku sama suami pengen dia itu ngerti sikon. Kalau kemarin pas nge-Mall udah main nih, pasti ntar pas ke Mall lagi kita sengaja ga ajakin dia main. Kita coba kasih pengertian aja meskipun kita tau dia belom bisa ngerti, hehe.

Tinggal di kota besar emang susah2 gampang ya. Susahnya, bingung mau ngajakin anak kemana kalau pas libur gitu (selain ke Mall pastinya). Kita bahkan sudah menjelajahi seluruh taman yang ada di Surabaya, ke North Quay lihat kapal, ke Kenjeran, sampai jelajah museum dan pasar. Kenapa sih kok ga main di rumah aja, sis? Gini sis. Kebetulan kami ini tinggal di apartemen studio, which is kebayang dong ya ga banyak space buat bermain. Dan kalau di rumah, Skye maunya nonton.

Lagi ngeliatin fotonya pas masih bayik

Well, memang salah kami sebagai orang tua yang memperkenalkan gadget terlalu dini. Tapi gimana lagi ya? Secara si suami kalau lagi ada job buat design atau photo/video, pasti ngerjainnya di rumah karena ga mungkin ngerjain di jam kantor (bisa di-BHAY sama bosnya kalau ketahuan). Otomatis Skye penasaran dong dengan apa itu komputer, kok bisa ada gambarnya, kok bisa ada suaranya. Jeng jeng jeng. Dari situlah awal mula perkenalannya dengan komputer dan Youtube.

Oiya, masih inget video competition Yummy Bites yang pernah diikuti Skye? Alhamdulillah meskipun ga juara 1 dan 2 (maafkeun nak, belom bisa bawa kamu ke Korea, hehe) tapi Skye masuk 10 besar lho dan dapet bingkisan se-kerdus dari Yummy Bites. Isinya udah pasti ya produk2 Yummy Bites, tas, plus voucher MAP senilai 200ribu. Terima kasih Yummy Bites 🙂

Skye dan bingkisan Yummy Bites