Pengalaman Naik Kereta Lokal Pasca PSBB

Pengalaman Naik Kereta Lokal Pasca PSBB

Pejalanan menuju Surabaya

Di tengah pandemi corona ini banyak daerah, khususnya yang termasuk ke dalam zona merah menerapkan PSBB. Banyak yg salah sangka mungkin dengan istilah PSBB ini dan mengartikannya sama seperti lockdown. Padahal kedua kata tersebut berbeda dalam penerapannya. PSBB artinya pembatasan sedangkan lockdown artinya tutup total. Pembatasan berarti masih boleh tapi dibatasi, batasannya apa? Ya berupa aturan dari pemerintah setempat. Misal, yang dalam kondisi normal mobil avanza bisa diisi oleh 6 orang, pada saat PSBB ini dibatasi hanya 50%nya saja yaitu 3 orang. Atau pembatasan orang dari luar daerah tersebut untuk bebas keluar masuk tapi bukan berarti sama sekali ga boleh keluar masuk sih. Selama ada keperluan yang dilengkapi bukti, pakai masker, dan suhu tubuh normal, it seems ok kok.

Kali ini aku akan menjawab kegelisahan beberapa orang mengenai PSBB. Per tanggal 28 April 2020 Surabaya sudah mulai menerapkan PSBB dan tanggal 23 April aku sudah mengungsi ke Malang (lebih mau mengungsikan anak sih sebenernya) karena memang kantor udah full WFH. Selama WFH di Malang ternyata rasanya lebih melelahkan ketimbang WFH di rumah Surabaya. Meski di Malang ada ortu tapi mereka pada sibuk sendiri2 jadinya ya tetep aku yang jagain Skye sembari WFH.

Pada tanggal 11 Mei aku memutuskan untuk ke Surabaya dengan alasan mau ngembaliin barang kantor karena kan emang mau resign. Sebenernya belum diminta sih tapi gpp lah sekalian mau menenangkan diri sejenak. Bus sudah ga beroperasi, terminal Bungur pun tutup, akhirnya aku memutuskan untuk naik kereta lokal. Pas aku cek jadwalnya masih ada meski terbatas. Nekat aja lah, pikirku. Kalau memang ga bisa ya ga jadi ke Surabaya.
Aku memesan tiket melalui aplikasi KAI Access yang sangat mudah.

KAI Access bisa didownload di App Store atau Play Store. Penampilannya sangat user-friendly sih menurutku. Ada menu untuk memesan tiket kereta baik KA antar kota maupun lokal, lalu ada menu untuk cek tiket, riwayat pembelian tiket, dan settingan akun. Setelah menentukan rute dan tanggal keberangkatan (bisa satu arah atau PP), tinggal klik cari lalu akan muncul pilihan kereta apa saja beserta pilihan jamnya. Kemudian, lanjut untuk memilih kursi dan langkah terakhir ada melakukan pembayaran.

Nah, pada saat pembayaran ini, kita akan dialihkan ke aplikasi Linkaja. Sampai saat ini metode pembayaran KAI Access cuma ada Linkaja (ga ada pilihan lain, semoga next timme bisa ada menu transfer atau OVO gitu ya, hehe). Klo belum punya Linkaja, harus download dulu dan top up sesuai dengan harga yang akan dibayar. Sayangnya, sampai saat ini metode pembayaran cuma bisa melalui Linkaja, jadi mau ga mau harus punya akun di Linkaja. Setelah bayar, barcode tiketnya langsung generate secara otomatis. Klo mau cek, tinggal masuk ke menu tiket aja.

Aku memilih kereta api Penataran dari stasiun Malang – Gubeng jam 12.50-16.10 dengan tarif Rp 12,000 saja. Kereta tersebut hanya beroperasi dengan 3 gerbong dan bisa milih tempat duduk lho. Aku milih gerbong 2 yang masih sepi. Sebelum memasuki kereta, aku harus melewati bilik disinfektan, cek suhu tubuh, scan barcode tiket, dan cek KTP. Tapi ga diminta surat macem2, sempet deg2an juga sih secara aku ga punya surat tugas. Tepat (banget) jam 12.50 kereta berangkat menuju Surabaya. Kursi penumpang terlihat banyak yg kosong. Tapi semakin banyak singgah di stasiun2 lain, penumpang pun semakin banyak. Tetep aja masih banyak kursi kosong dan memang si masinis menghimbau penumpang yg duduknya berdekatan untuk pindah ke kursi yg kosong. Perjalanan berjalan tanpa hambatan meski ada penumpang yang dengerin musik kenceng banget (maklum, belum kenal headset dan earphone mungkin?).

Masih banyak kursi kosong

Sampai stasiun gubeng jam 16.08 (lebih cepet 2 menit dari jadwal). Keadaan di stasiun gubeng ramai penumpang yang turun maupun yang menunggu kereta. Aku memilih keluar stasiun Gubeng lama. Di pintu keluar ada security yang berjaga tapi sama sekali ga diperiksa, ditanya, ataupun dicek suhu badan (diliat pun enggak). Maen keluar aja kita para penumpang dan dibiarin. Baeklah. Sampailah aku di Surabaya dengan selamat sentausa.

Perjalanan balik Malang

Tanggal 14 Mei aku berencana balik Malang karena kasihan si bayi kicik kalau ditinggal lama2. Aku memesan tiket balik dan sengaja turun di stasiun Blimbing (bukan di staisun Malang) karena denger2 di stasiun Malang tuh ada posko yang nantinya penumpang yang akan masuk Malang akan dicek suhu dan surat2 (males kan ya). Pas pesen tiket balik ini aku pilih kereta yang jam 6 sore dan kelihatannya sih kereta lebih rame daripada pas berangkat. Mungkin karena jadwal malem ya jadi orang2 yang PP Malang-Surabaya pada pulang.

Hari itu aku diantar mas bojo ke stasiun Wonokromo sekitar jam 5 sore. Jarak dari rumah ke stasiun Wonokromo hanya 15 menit. Sebelum masuk ke peron, rencananya sih aku mau beli minuman dulu buat buka puasa di Alfamart stasiun. Pas jalan kesana, eh ternyata Alfamartnya tutup. Untung ada Rotiboy, aku beli es teh seharga 5ribu perak, hehe. Setelah itu, aku menuju peron dengan melewati pengecekan suhu tubuh dan KTP serta scan barcode tiketnya. Di stasiun Wonokromo ini ga ada bilik disinfektan kayak di stasiun Malang. Di peron ternyata penumpang udah rame. Aku menunggu kereta datang ditemani dengan lagu2 yang dinyanyikan oleh musisi stasiun yang suaranya merdu. Beberapa menit kemudian kereta datang dan semua orang yang ada di peron pada masuk ke kereta (eh buset).

Penumpang kereta saat itu sangat rame seperti dugaanku. Di sebelah tempat dudukku ada cowok, di kursi hadapanku pun ada 2 orang cowok. Aku melihat sekitar ternyata kursinya full. Padahal katanya jumlah penumpang dibatasi hanya 50%. Klo ini mah jumlahnya kayak hari2 biasa, batinku. Aku dijemput bokap yang sudah setengah jam menungguku di stasiun Blimbing. Kata bokap, “kok gerbang stasiunnya digembok? Kamu yakin keretanya berhenti di staisun Blimmbing?”. Sempet ragu2 sih dan pengen nanya ke mas2 sebelah tapi masnya lagi tidur pules. Aku coba meyakinkan diri sendiri dan bokap. Klo ga berhenti di staisun Blimbing, kenapa ada tiketnya, pikirku. Kereta sampai di stasiun Blimbing jam 8.45 malam. Ternyata gerbang baru dibuka klo ada kereta yang berhenti (huh bikin panik aja). Turun dari kereta, aku langsung keluar gitu aja tanpa dicek suhu tubuh atau ditanyain macem2, persis kayak pas keluar dari stasiun Gubeng.

Jadi, ini sebenernya PSBB apa enggak sih? Kok orang2 masih bebas keluar masuk gini?

Leave a comment