Beberapa bulan ini, kita semua, masyarakat dunia dihebohkan dengan kemunculan Corona (COVID-19). Virus yang awalanya diklaim muncul di Wuhan ini, terus menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Sejak diumumkan ada pasien yang positif corona di Indonesia awal Maret 2020 lalu, penambahan jumlah pasien di Indonesia semakin banyak. Bahkan per tanggal 18 Maret 2020, jumlahnya sudah mencapai 227, sembuh 11 orang, dan meninggal 19 orang.

Sebaran Kasus Covid-19 di Indonesia hingga 17 Maret 2020 (berdasarkan pengumuman dari
Pak Achmad Yurianto).
1. DKI Jakarta
2. Jawa Barat
3. Jawa Tengah
4. Jawa Timur
5. Yogyakarta
6. Banten
7. Bali
8. Kalimantan Barat
9. Sulawesi Utara
10. Kepulauan Riau
Nah, karena sudah semakin tidak terkendali, akhirnya bnayak perusahaan yang menerapkan sistem Work From Home untuk para pegaiwanya. Termasuk perusahaan suamik. Per tanggal 16 -21 Maret 2020, suamik bekerja dari rumah. Pun dengan sekolah2 termasuk Daycare Skye yang juga meliburkan seluruh aktivitas selama 2 minggu. Jadi, selama 1 minggu ini Skye quality time bersama bapak di rumah, hehe. Minggu depannya mungkin sama ibuk ya karena kemungkinan perusahaan tempat aku bekerja pun akan menerapkan WFH (semogaaa, hahaha).
Suka duka WFH yang dirasakan suamik.


Menurutku, WFH memang efektif sih untuk mencegah penularan Corona, dengan catatan kalau benar2 mengisolasi diri di rumah ya. Nah, ini yang aku denger di berita, orang2 malah pada nongkrong atau liburan. Cerita dari temenku juga pas dia masuk drive thru Starbucks dan McD, eh disana pada banyak banget orang lho, bahkan lebih banyak dari hari2 biasa tanpa Corona. Terus, aku pernah lihat nih di sosmed, ada orang yang turun ke jalan dan bertanya ke orang2 “pada takut corona engga? kok masih pada aktivitas di luar rumah”. Dan rata2 menjawab “engga takut corona” bahkan mereka ga tau Corona itu apa. Baeklah (hela napas, buang perlahan).
Memang sih ya, namanya juga penyakit datengnya dari yang di atas, anggep aja kita lagi dikasih cobaan. C’mmon udah saatnya kita berpikir jernih untuk menghindar dari yang namanya penyakit. Toh klo kena, kita sendiri yang susah, belom lagi nyebar ke anak, pasangan, keluarga, tetangga, temen2, se-Indonesia. Kan, nyusahin orang lain juga. Well, Corona tidak menyebar dengan sendirinya. Ga perlu menyalahkan siapapun, pemerintah yang lamban, orang2 yang masih nekat ke luar negeri, perusahaan yang belum menerapkan WFH, dll. Kita hanya perlu “menjaga diri”.
Gimana caranya? (versi WHO)
- Cuci tangan sesering mungkin. Kalo ga memungkinkan? Misal lagi di perjalanan? Sediakan aja hand sanitizer.
- Terapkan social distancing atau “jaga jarak” minimal 1 meter. Klo tinggal serumah gimana? Ya ga mungkin juga sih kita jaga jarak 1 meter dengan anak, apalagi anakku masih bayik. Yang dimaksud ini lebih ke jaga jarak dengan orang di luar sana yang kita ga tau mereka habis berinteraksi dengan siapa, habis darimana, habis melakukan apa, dll.
- Hindari menyentuh mata, hidung mulut. Agak susah sih ini, khususnya bagi kamu wanita, apalagi yang dikit2 touch up, wkwkwk. Ya, dikurangin aja lah ya frekuensinya.
- Lakukan aturan bersin yang benar. Aku juga baru tau akhir2 ini sih, cara menutupi mulut ketika bersin itu ternyata pake siku, bukan pake telapak tangan, hihi. Karena belom terbiasa, jadi kadang masih suka pake telapak tangan sih. Tapi gpp, yang penting ditutupin aja klo pas bersin biar ga muncrat kemana2.
- Jika mengalami demam, batuk, dan kesulitan bernapas, segeralah berobat. Minimal periksa lah. Apalagi klo 3 hari ga kunjung sembuh dan bertambah parah. Masa’ iya sih sakit dibiarin aja. Dan yang paling bener sih, klo kalian sakit sebaiknya dengan kesadaran diri sendiri untuk menjaga jarak dengan orang lain. Entah sakit apapun ya, ga hanya Corona.
Penggunaan masker gimana? Ga wajib bagi yang sehat. Justru yang harus pake masker itu yang sakit atau ada tanda2 sakit. Ada sedikit cerita nih dari temen (kisah nyata). Kebetulan temenku itu tempat kerjanya di salah satu gedung perkantoran di Jakarta Pusat. Sejak wabah Corona ini, diterapkanlah pemeriksaan suhu badan sebelum memasuki gedung tersebut. Nah, temenku ini kan dateng bertiga sama temennya. Kebetulan ada salah satu temennya yang (sehat) pakai masker. Eh, temennya ini disuruh minggir sama petugasnya dan dibawa ke salah satu ruangan untuk pemeriksaan lebih lanjut. Di ruangan tersebut, selain diperiksa ini itu, dia juga ditanya2in panjang lebar “kenapa pake masker?”, “habis darimana?”, “terakhir kontak dengan siapa?” dan hal itu bikin dia telat masuk kerja. Sementara temenku dan temennya yang satu lagi (ga pake masker) setelah lolos pemeriksaan suhu badan langsung disuruh masuk ke gedung.

Namun, perlu digarisbawahi, Corona bukan penyakit yang tidak mungkin sembuh. Buktinya yang sembuh sampai saat ini sudah 11 orang (meski yang meninggal lebih banyak, hiks). Berilah dukungan terhadap orang2 yang diberi cobaan dengan penyakit ini. Jangan malah dibully dengan menyebarkan berita yang aneh2 karena justru itulah yang akan memperparah keadaan mereka, keadaan mental lebih tepatnya. Eits, tapi bukan berarti kalian terlalu “santuy” menghadapi pandemi Corona ini ya. Meski biaya RS nanti akan ditanggung pemerintah kalau kalian positif Corona, meski nantinya kalian hanya perlu tiduran di RS, tapi percayalah wahai kawanku se-Indonesia, sakit itu engga enak.
Semoga kita semua dalam keadaan sehat wal’afiat dan terhindar dari penyakit apapun ya 🙂