7th Month, Tedak Sinten

7th Month, Tedak Sinten

Sebagai suku Jawa, kita harus bangga dan melestarikan budaya Jawa. Salah satu budaya Jawa adalah tedak sinten alias turun tanah, prosesi untuk bayi yang usianya menginjak 7 bulan. Maksutnya, bayi dengan usia 7 bulan ini dinilai sudah bisa turun tanah (merangkak). Jujur, sebenarnya saya belum pernah secara live menyaksikan prosesi ini karena di daerah saya sudah jarang. Oleh sebab itu saya memutuskan untuk tanya mbah gugel mengenai turun tanah ini sehingga saya ada gambaran.

This image has an empty alt attribute; its file name is IMG_0947.JPG
Lurik Skye untuk tedak sinten beli di shopee/lelakikecil dengan harga IDR 65K

Rencananya prosesi turun tanah Skye akan dilangsungkan di Madiun (berdasarkan pertimbangan, mertua saya lebih paham proses ini ketimbang orang tua saya). Mertua berpesan kepada saya dan suami untuk mengumpulkan uang koin pecahan 500 rupiah sebanyak 1 juta rupiah. Kami berhasil mengumpulkannya dalam waktu 2 hari. Sebenernya ngumpulin sih gampang, yang jadi masalah tuh bawanya kesana, kan berat yak. Tapi demi kelancarkan acara turun tanah, kami pun membawa uang koin tersebut ke Madiun.

Pada hari H, suasana hectic sudah terlihat sejak pagi. Banyak tetangga yang berdatangan untuk membantu menyiapkan makanan dan segala sesuatunya. Meskipun say aga bisa masak, tapi saya juga turun tangan (biar jadi menantu yang baik). Saya bertugas menyiapkan nasi kotak. Menjelang siang, ibu mertua menyuruh saya bersiap2 di depan (baaiiiqq).

Daan, prosesipun dimulai dengan memandikan Skye didalam air yang berisi uang koin. Kemudian meletakkan Skye di dalam kurungan yang sudah dihias cantique oleh bapak mertua.

Setelah itu, menggendong Skye dan kami berdiri di antara kerumunan orang yang berebut uang koin yang dilemparkan dengan memegang paha ayam (bukan paha ayam biasa, hahaha).

Acaranya ga berlangsung lama. Setelah uang koin habis, orang2 langsung bubar. Belum selesai sampai disitu, malam harinya ada pengajian di rumah. Jadi, setelah acara lempar koin berakhir, saya yang lain harus menyiapkan makanan untuk pengajian nanti malam. Seperti sebelumnya, saya bertugas menyiapkan nasi soto. 

Jam 6 sore, bapak2 sudah mulai berdatangan. Tim emak2 dengan nasi sotonya sudah siap membagikan hidangan tersebut. Alhamdulilah, acara turun tanah sampai pengajian berjalan lancar meski agak hectic. Jam setengah 8, kami sudah beberes rumah dan siap untuk beristirahat karena esok harinya kami harus kembali ke Surabaya.

Sesampainya di Surabaya, kami kembali disibukkan dengan aktivitas rutin. Saya dan suami adalah team work yang sangat kompak agar menjalani rutinitas tidak melelahkan. Kami bangun jam 6 pagi,  si bapak langsung mandi sementara mamaknya beberes rumah lalu menyiapkan bekal dan perlengkapan Skye di Daycare sembari memanaskan air untuk Skye mandi. Di saat mamaknya mandi, si bapak lah yang memandikan Skye dan nyuapin sarapan Skye. Btw, Skye sangat suka mandi lho, muaknya selalu ceria gitu kalau lihat air, hahaha.

Jam 7an kami berangkat dengan rute rumah – Daycare – kantor mamak – kantor bapak. Pulangnya pun sama rutenya, tinggal dibalik aja. Sepulang kerja kegiatan kami adalah cuci baju, jemur, dan nyiapin makan malem. Biasanya jam 8 kami sudah bisa nonton yutube sambil ngajak main Skye.

Nah, begitulah rutinitas yang kami jalani dengan kompak sehingga tidak merasa lelah dan bosan. Saat weekend pun kami selalu menyempatkan untuk quality time seperti jalan2 ke taman, makan2 di luar, atau staycation di hotel karena meskipun kami sama2 bekerja tapi kami tidak mau kehilangan moment2 bersama šŸ™‚

Leave a comment